Coba Lihat Di atas Sana

I.

Coba lihat diatas sana
purnama masih merona mengintip malam yang merambat diatas kepala

Lalu pertama kalinya manusia meringkih pada tubuhnya sendiri bahwa ketidakmampuannya mencium wangi wangi musim adalah perihal perihal yang harus ditertawakan

Hati adalah satu satunya kamar tempat dimana manusia mencintai segala ketersesatan untuk melihat seberapa kejam, seberapa gila, seberapa berani, kelemahan kelemahan diendapkan sebelum dimuntahkan.

II.

Lalu kunang kunang beterbangan
Mereka berkata maaf tubuh juga telinga kami terlalu kecil untuk mendengar dongeng dongeng tentang harga diri, maaf pula kami terlalu lancang menolak cahayamu, setiap kami punya cahaya sendiri.

Dengar, sebagian manusia sedang melamun mendengar lolong anjing bagi mereka itu adalah jalan pulang untuk nurani, malam yang tersenyum adalah jalan pulang bagi rasa syukur yang terhormat.

– dan sekecil apapun jalan, keteguhan adalah jalan pulang untuk tetap mengeja namaMu dengan cinta.

Kupang, 3/6/18

Iklan

Tadinya

Tadinya aku ingin tulis
Bocah bocah itu butuh Ayah
Lantas aku ganti mereka butuh NAMA agar bisa bumi bertuan!

Tadinya aku ingin tulis
Bocah bocah itu butuh Ibu
Lantas aku ganti mereka butuh SEKOLAH agar bisa makan dengan kaki tangan sendiri!

Tadinya aku ingin tulis
Bocah bocah itu butuh rumah
Lantas aku ganti mereka butuh DOA agar setiap hati tekad untuk mewujudkannya!

Tadinya aku ingin tulis
bocah bocah itu butuh makan
Lantas aku ganti mereka butuh akte lahir! Agar semua mimpi bisa terwujud.

Ya!, setiap anak butuh akte lahir!
Ingat setiap anak, agar tak kuganti lagi tulisan tulisan ini!

28/4/18

Pagi Mendung, di Kota Ende

Awan awan itu menggantung begitu dekat seperti garis waktu yang melekat pada perjalanan yang sering kau tempuh lalu berhenti dimata seorang perempuan.

Pada bola mata itu kau tak kunjung bosan melihat dirimu sendiri. Hatimu akan sembuh.

Lantas! Apa kau ingin menanggalkan tubuh lalu bermain main dengan serangkaian aroma yang memberi kode bahwa dirimu adalah pahlawan bagi semua yang tertindas?

Maaf! Sekali kali tidak, selebihnya pun tidak.
Kau bukan sebuah gunung tempat para embun meneteskan hening demi menyambut pagi.

Pergi ataupun pulang sekarang keduanya punya arti yang sama.

Ah!, rupa rupanya pagi mendung di kota Ende membuat kau tersentak bahwa tersesat tak pernah lebih menakutkan dari apapun sebab kau sadar cintaNya adalah pusat semesta…

Untuk M.H.
Ende, 24/Mei/18

Bumi Menalar Dirinya

Disini ada sajak untuk teman Jauh
Teman yang dahulu berkisah bahwa bumi perlu sekutu
Lalu kita sepakat mengawinkan awan dan angin yang terlahir sebagai hujan

Disini ada sajak untuk teman jauh
Teman yang dahulu bergemuruh menerpa tubuh muda kami hingga tanah kembali menumbuhkan pucuk pucuk musim, lalu kita menamakannya manusia

Genting, ini genting! Rupa rupanya kita tertipu
Ibu berucap pada tepi mata air, pada lereng lereng bukit, pada padang padang kosong bahkan pada langit bisu diatas sana.

Lihat senja merah itu hanyalah peraduan yang teramat singkat
Perut bocah bocah itu masih melontarkan suara suara
ibu! Ibu, Kami hampir busung lapar! terkutuklah para pencuri!

Mereka membentak anak anak kami!
Anak anak yang dahulu kami lahirkan diatas denyut denyut doa
Mereka bilang anak anak itu tahu apa! Taik!
Kencingmu belum lurus! Enyah lah!
Pada secarik kertas Ibu kembali memuja angin. Memuja rindu. Memuja keterasingan.

Kami melotot! kami memberontak!
Apa daya Ibu berulang kali diperkosa para perampok
Mereka bilang penjarakan kisah itu!

Tidak, sesekali tidak, Selamanya tidak!
Bumi akan menalar dirinya sendiri,
Bila engkau terlanjur menjual diri, pulanglah!
Ibu selalu punya dongeng untuk menceritakan harga dirimu.

Sillu,22/4/18

Selka

Malam gelap separuh purnama itu menjadi sempurna bagi segerombolan anak punk yang gemar menjajakan suara-suara mereka lewat berderet lagu yang tak pernah tuntas dinyanyikan di persimpangan lampu merah. kendaraan lalu lalang serta macet yang tak karuan adalah kekayaan bagi mereka.

“Terimakasih om” demikian ucap Selka. Sembari mengantongi uang receh yang baru saja ia perolah dari balik kaca mobil yang ia hampiri dengan gitar kecilnya.

Selka salah satu dari anak-anak Jalanan itu. Ia temanku. Berbeda dengan anak-anak punk lainnya yang kabur dari rumah akibat broken home. Selka justru sebaliknya. Kedua orang tuanya baik-baik saja. Ia kabur dari rumah katanya bosan hidup berkecukupan ia ingin merasakan hidup bebas tanpa aturan.

Aku bukan anggota mereka, anak punk yang sering nongkrong di perempatan jalan itu. Waktu itu aku mahasiswa sastra inggris semester akhir yang kebetulan ngekos dekat persimpangan itu. Persimpangan lampu merah itu jaraknya kira-kira 200m dari kosku. Setiap hari aku sering lalu lalang melewati persimpangan itu. Entah mau ke kampus atau kemana saja. Persimpangan itu tak bisa kuhindari. Kecuali aku pindah kos.

“Motornya kenapa bang? Tanya anak laki-laki berambut ala vokalis Rancid juga bersuara berat yang segera mendekatiku karena kebingunan melihat motorku yang tiba-tiba mogok.

“Tidak tahu juga mas, tiba-tiba macet” jawabku sembari cepat-cepat mendorong motor itu ketepi trotoar jalan menghindari kemacetan.

“Biar saya bantu mas” laki-laki itu mendekat, tubuhnya tegap namun sedikit kurus. Ia segera membantuku mengutak atik kepala busi dan juga karburator motor supraku itu untuk beberapa saat.

“Coba di stater mas”

“Ok,” Segera aku menjawab.

Benar saja, motorku langsung hidup. Padahal aku meragukan bantuan si anak tersebut.

“Wah, trimakasih yah mas sudah membantu”

“Sama-sama bang, karbu dan businya aman, cuma kalau ada duit mendingan kabel businya perlu diganti” jelasnya seperti montir kawakan.

“Ok mas, awal bulan saya ganti, maklum anak kos, masih nunggu kiriman ortu”

“Sekali lagi terimakasih mas, maaf sudah merepotkan, ngomong-ngomong saya Alex” ucapku memperkenalkan diri.

“Selka bang” begitu ucapnya dengan suara santai, dua tahun lalu ketika pertama kali berkenalan tanpa sengaja akibat motorku mogok.

Setelahnya setiap kali melewati jalan itu pasti aku menegurnya entah dengan bersuara ataupun hanya sekedar melambaikan tangan. Kamipun berteman baik.

Hari-hari berlalu begitu cepat, begitu pula pertemanan kami. Ia anak yang tak banyak neko-neko kata orang jawa. Dimata teman-temannya pun ia anak yang sering menolong orang tanpa pamrih.

Kadang-kadang ia mampir juga ke kosku untuk sekedar minum kopi sore sambil gitaran. Aku suka musik reggae, Selka suka musik pop.

“Aku pengamen juga bro”

“Oh ya? Ngamen dimana bang?” tanya Selka penasaran.

“Ngamen di Cafe” Jawabku sambil tertawa. Aku memang punya group band amatir dan kami suka main di cafe hitung-hitung nyari duit pulsa, begitu istilah kami semasa kuliah.

“Wah, kalau abang nanti nyanyi di cafe boleh nonton nggak?” tanyanya

Aku tertawa kecil seraya menjawab “Dengan senang hati Ka”.

Begitulah salah satu percakapan dengan Selka sewaktu pertama kali dia datang main-main di kosanku. Sempat beberapa kali ketika aku nyanyi cafe Selka benar-benar datang untuk menonton.

Namun yang paling aku ingat tentang Selka adalah setiap kali datang main-main ke kosan ku ia tidak pernah datang kosong! Ia selalu membawa kopi saset, gorengan tempe beserta rokok ketengan yang ia beli dengan uang hasil ngamennya. Intinya ia tak merepotkanku.

“Ka, kenapa selalu datang sendiri? Mana temanmu” tanyaku.

“Bawa konco nanti malah ribut dan ngerepotin bang” jawabnya singkat. Seolah ia bisa meramal masa depan. Waktu itu analisa sederhanaku, Selka tipe orang yang benar-benar tidak suka merepotkan orang. Dimatanya terlihat ada kepuasaan tersendiri jika ia bisa mandiri.

“Orang tuamu dimana Ka?”

“Bang, tolong jangan tanya-tanya soal bokap dan nyokap, mereka sedang berbahagia kok bang” Jawabnya ketus.

“Berapa bersaudara?” aku semakin penasaran berusaha mengorek info darinya.

“Empat bang, dua cowok, dua cewek, semua sudah menikah, kecuali aku” jawabnya begitu jelas seakan terbesit tanda agar tak menanyakan lebih lanjut.

“Yah, pokoknya tiap sore kalau mau main kesini datang aja bro” tawarku padanya.

“Anggap saja aku saudaramu” lanjutku.

“Ok komandan siap!” Jawabnya dengan candaan.

Setelahnya aku malah sering di panggil komandan oleh Selka.

Suatu ketika ia pernah menghilang tiba-tiba hampir tiga bulanan. Aku lalu lalang di persimpangan itu dan tak pernah melihat Selka ada di dalam kerumunan anak-anak punk itu lagi, karena penasaran suatu ketika aku datangi salah serorang temannya yang juga aku kenal dari Selka.

” Selka nggak pernah kelihatan, orangnya kemana yah bro?” tanyaku pada Anto.

“Lagi jalan-jalan ke kota sebelah kali bang” tukas Anto dengan santai. Sambil menghisap rokok kreteknya dengan nikmat.

“Pergi terus atau cuman melaku-melaku toh?” tanyaku lagi.

“Emang ada perlu apa bang?”

“Nggak juga, cuman nanya aja, habis nggak pernah main ke kosan lagi” jelasku pada Anto.

“Oh aku pikir ada perlu penting”

“Nggak ada To, cuman nanya aja”

” Iya bang, nanti kalau ada pesan titip aja, Kalau dia balik nanti aku sampaikan, soalnya anak itu susah dijelasin bang, nanti juga muncul sendiri kalau udah bosan berkeliran disana bang” jelas Anto sambil tertawa kecil.

Sejak saat itu aku mengerti dan tak pernah lagi mencari tahu tentang Selka. Aku kembali berasumsi mungkin itu sudah menjadi kebiasaan buruk bagi anak jalanan seperti mereka. Pergi semaunya, Pulang semaunya. Benar saja beberapa bulan kemudian Selka kembali terlihat mangkal di perempatan itu lagi.

Sebenarnya tak ada yang benar-benar spesial dari Selka, selain suaranya yang bagus jika menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals juga hutang budiku padanya akibat ia membantu memperbaiki motorku di masa lalu. Aku termasuk tipe orang yang tidak mudah melupakan kebaikan orang apalagi jika orang-orang tersebut dengan tulus membantuku. Namun di dalam hati aku merasakan Selka anak yang baik dan benar-benar setia kawan. Bahkan sewaktu aku memutuskan untuk pindah kos beberapa bulan lalu ia benar-benar membantuku mengangkut barang-barangku. Ditawari makan pun ia selalu menolak. Selka berbeda dari kumpulan yang terbuang itu.

Beberapa temanku malah pesimis. Kata mereka aku harus berhati-hati karena anak-anak jalanan rata-rata pencopet dan nggak jelas hidupnya. Aku menolak mengiyakan opini mereka dalam hatiku, sebab sudah hampir dua tahun aku mengenalnya nyaris tanpa masalah, justru sebaliknya aku yang selalu mendapat pertolongan darinya.

****

Suatu sore itu aku mendapat undangan dari seorang teman kuliah asal papua yang baru saja di wisuda sehari sebelumnya. Seperti biasa kami makan-makan, bakar-bakar ikan di rumah kontrakannya dan sudah pasti menu penutupnya adalah meminum alkohol. Ini budaya mahasiswa dari Indonesia timur yang menjamur dimana-mana kala itu.

“Kalo tra minum kita bukan anak timor lah” canda Niko salah seorang mahasiswa asal papua temanku.

“Bah, klo tra makan apa jadi?” jawabku dalam logat Papua dengan maksud membalas candaanya.

Hampir tengah malam aku memutuskan untuk pulang ke kosku. Kepalaku sudah mulai pusing dan terasa sedikit mual. Rahangku juga terasa sedikit kram akibat kebanyakan tertawa mendengar cerita lucu ala-ala papua yang diceritakan oleh teman-teman asal papua dalam acara kumpul-kumpul tersebut. Sesampainya di kos aku langsung menghempaskan diriku atas tempat tidur dan segera tertidur tanpa syarat.

Mungkin aku baru tertidur satu atau dua jam, aku tak ingat persis. Tiba-tiba pintu kamarku di gedor-gedor begitu kencang!

“Bang, Bang, Bang Alex!” begitu suara itu terdengar dari luar beberapa kali.

Aku masih setengah sadar dan berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah dengar. Namun akhirnya aku yakin bahwa memang itu suara Anto, teman Selka, temanku juga.

“Iya, siapa diluar?” jawabku lirih dan setengah sempoyongan.

“Ini Anto Bang, teman Selka, Bang buka Pintu ada yang penting ini” katanya menjelaskan.

Lalu aku segera bangun dengan kondisi masih setengah sadar membukakan pintu untuknya.

Betapa terkejut bukan kepalang begitu pintu dibukakan Anto berdiri di depanku dengan muka yang carut marut dan tangannya bersimbah darah. Saat itu pula segala kewarasanku langsung kembali kedalam tubuhku yang masih setengah sadar!

“Lho kamu kenapa bro?!” tanyaku begitu ingin tahu.

“Selka bang!” jawabnya sepotong.

“Lho, memang Selka kenapa?”

“Selka, bang!”

“Iya Selka kenapa?!” sekali lagi aku bertanya dengan nada mulai meninggi.

“Selka sekarang di UGD bang”

“Hah!?” jawabku sepotong dan terguncang.

“Selka kenapa to???” aku mulai kalut.

“Iya celaka bang, lagi gawat, belum sadar, butuh donor!”

Demikian sepotong percakapan kami di malam itu. Tanpa banyak kata aku dan Anto langsung menuju rumah sakit. Dalam perjalanan ke Rumah sakit barulah aku tahu jika mereka terlibat tawuran dengan kelompok anak jalanan lain yang mengakibatkan Selka ditusuk pisau oleh orang yang tidak diketahui. Perut sebelah kirinya sobek dan mengalami pendarahan sudah hampir sejam. Pisau itu merobek ususnya. Merobek kehidupannya.

“Kami butuh surat keterangan dari keluarga terdekatnya mas” kata dokter yang menanganinya.

“Juga 3 liter darah golongan B!, kalau tidak nyawanya tidak tertolong mas” Lanjut sang dokter kala itu. semua kata-kata itu terekam begitu jelas diingatanku hingga kini.

Selka tak tertolong. Nyawanya pergi sebelum semua persyaratan itu terpenuhi. Kami semua tak pernah mengetahui siapa keluarganya. Perihku seakan genap dimalam itu kala mengingat waktu itu aku tak bisa mendonorkan darahku yang bergolongan B, sebab dalam darahku masih ada alkohol kata dokter.

Aku menatap wajahnya yang sudah tak berdaya. Selka tertidur sunyi kaku tanpa sepatah kata lagi. Malam itu aku tak pernah kehilangan sahabat, aku kehilangan saudara.

Mengenang Selka, 12 Tahun lalu…….

15/4/18

Nenek Leti dan Keenam Istrinya

(Rato Cornelis Tonda Pandang)

“Opa itu patung nenek yang pake Kapauta hijau di ruang tengah siapa”

ucapku penuh rasa ingin tahu pada kakekku belasan tahun lalu, saat itu umurku kira-kira enam tahun dan patung tua tersebut selalu menarik perhatianku kala itu.

Patung seorang lelaki tua dengan kemeja putih gagah berani persis seorang jenderal Belanda dengan menggunakan kain Kapauta berwarna hijau polos di bagian kepalanya. Kapauta adalah kain ikat kepala yang menjadi ciri khas lelaki Sumba hingga saat ini.

Tentu saja aku pernah memakainya jika ada upacara adat seperti penguburan orang mati, dan sederet ritual adat lainnya seperti juga para lelaki Sumba lainnya.

“Itu opa pu bapak kandung”

Jawab opaku sembari menghabiskan teh hangat yang ada dalam beker besar digenggaman tangannya. Teh adalah minuman kesukaan opa hingga akhir hayat hidupnya. Beker adalah cangkir mula-mula yang banyak digunakan di seluruh daratan pulau Sumba sejak awal tahun 40an hingga awal 90an. Pada umumnya, bahan dasar beker adalah seng.

Hingga kini di beberapa daerah pedalaman pulau Sumba masih terlihat ada masyarakat yang menggunakan beker. Kebanyakan warnanya hijau. Tak terbantahkan beker adalah sisa-sisa penjajahan Belanda yang masih awet tertinggal di pulau kami, sebab orang Sumba asli hanya menggunakan tempurung kelapa yang telah dibersihkan hingga mulus ataupun bambu sebagai gelas untuk minum air.

“De pu nama sapa opa?” tanya ku lagi memburu jawaban agar segera merekah dari bibir opa.

“De pu nama Nenek Leti, itu ko punya tamu, ko yang ganti de pu nama”

Opa begitu tenang menjawab sambil menyuruhku pergi bermain ke halaman rumah bersama anak-anak lain agar tak mengganggunya membaca buku Ko Ping Ho kesukaannya. Opa dan Oma ku keduanya penggemar berat buku legendaris itu.

“Tamu” sendiri adalah sebuah istilah yang berarti pengganti nama, singkat cerita jika seorang anak yang baru lahir lalu kemudian diberi nama sama persis dengan orang tua dalam keluarga tersebut yang masih merupakan satu garis keturunan berarti dia menjadi “Tamu” orang tersebut, dan hal ini biasanya diharapkan agar si anak tersebut memiliki jalan kehidupan yang baik sama seperti orang yang namanya dipakai.

Saya tidak pernah menyangka telah digariskan semesta untuk menjadi “Tamu” dari salah satu orang yang mempunyai pengaruh paling besar di kampungku pada masanya. Itulah sebabnya ia dipanggil “Rato Golu Ede” sebutan Rato itu sendiri adalah nama lain untuk seorang kepala wilayah atau suap praja peninggalan masa Belanda.

Rato tidak sembarang dipilih atau dilantik begitu saja oleh pemerintah kolonial Belanda mereka biasanya memilih orang-orang yang cakap, disegani dan memiliki pengaruh yang besar dan kuat dari suatu wilayah. Konon Rato pun harus memiliki kesaktian supranatural. Terlepas dari semua itu sebagai bukti utama keabsahan dari seorang Rato pada sebuah wilayah adalah pemberian sebuah tongkat kuasa. Biasanya tongkat sakral itu terbuat dari Emas atau Perak. Dan berdasarkan cerita orang-orang tua di kampungku, Opa buyutku salah seorang pemilik tongkat tersebut.

Hal lainnya adalah anak dari para Rato pilihan kolonial yang selanjutnya dikenal dengan istilah Raja kecil tersebut harus di sekolahkan pada sekolah sederajat SMP yang berada di Makassar-Sulawesi Selatan sebabnya di pulau Sumba hanya ada Sekolah Rakyat (SR). Tujuannya jelas, dengan harapan setelah tamat mereka akan menjadi kaki tangan penjajah, sayang kekuasaan Belanda runtuh oleh masuknya Jepang.

Opaku sebagai anak pertama dan anak laki-laki sulung dari istri pertama Nenek Leti terlanjur di sekolahkan ke Makassar. Meninggalkan kedua adik saudara kandung peremouannya di kampung halaman.

Dalam masa perantauannya disana, opa termasuk yang beruntung, ia di pilih oleh Tentara Jepang lalu akhirnya masuk Heiho (Tentara Jepang) hingga akhirnya ditugaskan ke Manado lalu bertemu dengan wanita pujaan hatinya yakni Oma ku hingga akhirnya mereka berdua menikah disana. Kalau tidak salah ingat Opa pernah bercerita bahwa seorang temannya anak dari Raja Loura bermarga Kalumbang juga ikut menikah dengan orang Manado.

Tiap wilayah di daratan Sumba punya cerita yang hampir mirip seperti ini. Mungkin istilahnya saja yang berbeda-beda. Inilah hal yang paling menyedihkan karena nenek moyang kami belum mengenal tulisan dengan baik sehingga kisah-kisah seperti ini hanya hidup turun temurun lewat cerita orang-orang tua dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang-orang sumba pada umumnya lebih mempercayai cerita yang diceritakan turun temurun daripada yang tertulis.

Sepenggal percakapan dengan opa di masa kecilku itu ternyata membekas bagai lem sekaliber alteco yang merekat kuat diingatakanku hingga kini. Pada kesempatan manapun aku selalu berburu cerita tentang kakek buyutku itu. Alhasil lumayan banyak yang aku peroleh. Terutama soal ke enam istrinya yang membuat aku takjub!

—–@@@—-

“Enam orang lex?”

Tanya seorang temanku yang berasal dari pulau jawa ia nampak terheran-heran antara percaya atau tidak ketika aku menceritakan dengan berapi-api layaknya seorang caleg ulung yang berkampanye mengobral janji.

“Ya wes, kalau tidak percaya” tukasku kesal hendak mengakhiri obrolan di ruang perpus kampus kala itu.

Percaya, Percaya, Lex, Hebat yah Kakek buyutmu” candanya lanjut.

“Ono resep Kakek buyut mu rak?

“Sembarangan!, Rak Ono Ndes!”

“Neh Ono ojo pelit-pelit toh mas Umbu bagi resepnya biar tak pacari kabeh cewek-cewek ayu di kampus kita ini”Lanjutnya sambil ketawa terbahak-bahak.

“Ngawur Kamu!, balasku segera sambil ikut tertawa lalu kami berdua segera keluar dari ruangan perpus menuju kantin.

Bertahun-tahun berlalu aku masih saja mengingat dengan jelas cerita-cerita yang aku dapatkan dari opa, Kakek buyutku itu nama lengkapnya adalah Cornelis Tonda Pandang alias Kepala Lani, alias Nenek Leti. Hingga kini di Sumba orang menyebut kakek dan nenek dengan sebutan nenek laki-laki atau nenek perempuan atau bapak nenek dan mama nenek. Itu sebabnya kakek buyut saya juga dipanggil “Nenek Leti.” Lidah kami terbiasa mengucap sebutan itu turun temurun.

Opa juga pernah bercerita bahwa patung kecil berukuran setengah badan itu dibuat oleh seorang guru sekolah yang berasal dari Kabupaten Sumba Timur, namun sayang sekali aku lupa siapa nama orang tersebut, tapi yang pasti orang itu adalah seniman yang luar biasa hebat karena patung itu dibuat sama persis dengan foto aslinya yang dibuat sekitar tahun 70an! Jaman dimana teknologi belum seperkasa saat ini.

Beruntung bagi saya, ada beberapa kisah fenomenal tentang kakek buyutku itu yang sempat dituliskan oleh Opa dalam beberapa buku catatan hariannya yang kini sudah usang dan rusak. Saya seperti orang kecanduan dan tak bosan-bosan membacanya semasa SD. Hal ini yang membuat saya paham dan mengerti tentang sejarah keluarga kami, berangkat dari itulah saya ingin mengabadikan sepenggal kisah keluarga kami ini dalam tulisan, agar selamanya bisa dibaca lalu diwarisakan kepada anak cucu kami di kemudian hari.

Kebesaran nama Nenek Leti sudah bukan rahasia lagi di dalam keluarga kami bahkan juga di wilayah di Kecamatan Tanarighu, sebuah Kecamatan kecil di sebelah utara Kabupaten Sumba Barat yang sebelah baratnya berbatasan langsung dengan kecamatan Loura Sumba Barat Daya dan kecamatan Mamboro Kabupaten Sumba Tengah disebelah timurnya.

“Opa, ini nene Ina Lailo, Ina Tamo, dan Ina Daga dong ini siapa?” kenapa mereka selalu ada di Uma Kalada ini kalo opa pas datang kesini?

Pertanyaan yang pernah aku lontarkan dengan begitu saja sewaktu aku dan opa sedang makan jagung rebus pada suatu sore di Uma Kalada kami di kampung. “Ina” adalah sebutan lain yang sama artinya dengan Rambu dalam bahasa Sumba Timur.

“Dong semua itu sa pu mama tiri” jawab opa seolah tidak terlalu bersemangat.

“Kenapa opa pung mama tiri banyak sekali?

Ucapku lagi yang disambut dengan tatapan tajam Opa seperti enggan menjawab. Mungkin saja waktu itu opa seolah tak percaya mengapa anak sekecilku bisa mengeluarkan pertanyaan layaknya reporter tv yang sedang berburu berita.

Iya menghela nafas. Kemudian tatapanya segera berangsur pulih.

“Iya, opa pu bapak ini kan banyak hewan, dia Rato disini jadi bisa ambil istri banyak” jawab opaku ketus.

“Wuih enak betul kalau jadi Rato opa e? Bisa punya istri banyak”jawabku girang kala itu.

“Iya itu karena ko pu tamu dulu selain dia kaya, dia juga Marapu jadi boleh, kita su Kristen sekarang jadi tidak boleh”sanggahnya secepat petir menyambar dahan pohon.

Barangkali ia takut cucu kesayangannya ini nanti akan memiliki rekam jejak yang sama dengan tamunya. Meskipun bertahun-tahun kemudian prediksi opa itu salah besar. Aku justru malah lambat menikah. Susah mendapat pasangan hidup. Dan aku sering menertawai diriku sendiri setiap kali mengingat serpihan momen itu.

“Marapu itu apa? Aku kembali bertanya.

“Marapu kita pu nenek moyang dong pu agama, itu dibelakang rumah masih ada patung-patung keramatnya Marapu, makanya jangan suka pi main-main disitu nanti kalo sial bisa dapat tulah” jelas opa sedikit bernada nasihat.

“Iya Opa” jawabku singkat penuh ketakutan.

Memang sewaktu kecil kami sering ditakut-takuti agar tidak sembarangan bermain di tempat-tempat sakral Marapu. Namanya anak kecil yah aku percaya saja tanpa alasan. Marapu sendiri merupakan kepercayaan utama orang Sumba kala itu. Sebuah ajaran penghormatan kepada alam semesta lewat pemujaan tradisional yang kini semakin hilang. Marapu memang memperbolehkan beristri lebih dari satu asalkan mampu bayar belis dan menafkahi setiap perempuan yang mereka sukai perkara selesai.

Namun pada umumnya hanya golongan bangsawan dan dan raja-raja saja yang bisa melakukan itu, alasannya sederhana mereka punya banyak hewan peliharaan (Kuda, Kerbau, Sapi, Babi dll), Emas, Tanah, barang berharga lainnya dan tentunya mereka punya hamba.

Budaya ini terjadi hampir diseluruh daratan Sumba, lebih khusus soal hamba hal ini masih berlaku dan dipelihara hingga kini di wilayah Sumba Timur oleh beberapa suku dan marga. Di Sumba Barat sendiri status keberadaan hamba atau istilah halusnya “orang dalam rumah” sudah dihapus sejak perkembangan agama Kristen, Katolik dan Islam.

Sejak saat itu aku akhirnya mengetahui mengapa Kakek buyutku mampu memiliki enam orang istri yang pada masa kecilku tersisa tiga orang yang masih hidup dan hingga saat ini masih tersisa satu orang istri yang masih hidup. Ia sungguh panjang umur.

Aku belajar banyak hal tentang opa buyutku itu. Namun yang paling aku banggakan bukan tentang ke enam istri ataupun nama besarnya, tapi semata-mata tentang bagaimana ia mampu menjaga keharmonisan di dalam kampung itu. Katanya ia terkenal sangat adil bukan dengan istri-istrinya saja tapi hampir dengan semua orang-orang peliharaannya.

Kemudian juga bagaimana ia bisa membuat para istri dan keturunannya bisa akur dan tetap saling menghargai. Ia mengatur dan membagi lokasi pemukiman dengan sangat baik. Itulah hal-hal yang membuat namanya harum dikenang.

Saya pribadi selalu punya mimpi menjaga keharmonisan keluarga besar kami agar tetap terjaga turun temurun bagi saya itulah warisan yang sangat mulia untuk dijaga. Sebab itu tak akan punah dimakan waktu.

Keterangan:

*Kapauta = Ikat Kepala Tradisional Lambang Kegagahan Seorang Laki-Laki Sumba

* Uma Kalada = Rumah Besar/Asal/Induk

*Opa = Kakek *Oma = Nenek

*Rato = Tuan/ Kepala/ Raja

*De = Dia, * Ko = Kau/Kamu, *Pu = Punya, *Dong/Dorang = Mereka

*Gollu = Kampung, *Ede = Kedondong

*Beker = Gelas/Cangkir

*Ina = Rambu, Sebutan Untuk Perempuan Sumba

Serpihan Ingatan

Dahulu kala orang orang tua beruban pernah mendongeng beberapa kata tentang ketegaran dan ternyata itu hanyalah masa lalu yang patut dirayakan sekali sekali.

Lalu bocah bocah di pinggir jalan itupun berkata ditangan kami tak ada masa lalu, itu hanya secarik janji tak pernah tuntas! Kami membuka jendela melihat langit sebagai ibu dan awan awan mendung sebagai ayah!

Lalu mereka bersusah payah menemukan jalan ke negeri dongeng yang tak pernah mangkir dari mimpi mimpi yang mengkejutkan pusat malam diatas tempat tidur.

Jujur orang orang berotak tak kan punya kemampuan seperti mereka, selebihnya aku hanya ingin mencium matahari lalu hangus terbakar setidaknya aku sudah jadi masa lalu bagi jejak hitam ku sendiri.

Tak ada yang perlu diperjuangkan jika engkau hanya duduk berpangku tangan sembari melahap makanan makanan lezat yang dihantar rakyat dengan menguras keringat yang tercucur!

Engkau tertawa dari diatas kursimu melihat api membakar segala kebenaran. Keesokan harinya kau datang lalu berpura pura mengulur tangan, katamu kami iba!

Amarah tak kuasa mengerucut lalu ia pun tersesat dalam tubuh kami yang telanjang dan kumuh apa daya ingatan kembali menemukan jalan pulang pada masa lalu, ternyata dengan tangan bodoh ini kami sudah memilih segerombolan bangsat berpakain neces!

14/4/18